MASIH MAU BERGANTUNG PADA MINYAK?

Forumhijau.com – Jika kita berkaca pada potensi energi alternatif yang sangat besar, pertanyaan selanjutnya adalah kenapa Indonesia masih bergantung pada minyak? Hal ini bisa dijawab saat kita kembali membuka lembaran sejarah, bahwa di era 1960-an pemerintah Indonesia mengenalkan format subsidi bahan bakar minyak (BBM). Subsidi energi yang diambil dari APBN ini rata-rata mengambil porsi 20% dari pengeluaran negara.

Sejak saat itu hingga tahun 2013 format yang sama masih dipertahankan. Padahal, percepatan laju konsumsi energi dalam negeri jauh melebihi produksi minyak itu sendiri. Produksi minyak Indonesia yang sempat tertinggi 1,6 juta barel per hari, kemudian loyo menjadi sekitar 861.000 barel per hari pada 2012.

“Pada saat yang sama, cadangan minyak terbukti Indonesia juga turun terus sehingga menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat penurunan cadangan minyak mentah tercepat di Asia,” tutur Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Karen Agustiawan. Indonesia pun masuk ke dalam daftar negara net importir minyak, dan bukan lagi menjadi anggota OPEC. “Secara geopolitik, terjadinya gejolak di Timur Tengah akan menimbulkan kondisi yang kurang menguntungkan bagi pasokan minyak ke Indonesia,” paparnya.

Sementara tahun ini, total subsidi energi yang diambil dari APBN mencapai Rp 274,7 triliun dan terbagi menjadi subsidi BBM Rp 193,8 triliun dan subsidi listrik Rp 80,9 triliun. Kuota BBM yang dijatahkan pemerintah selama 2013 pun hanya 46 juta kiloliter (kl). Alokasi subsidi tahun ini lebih tinggi dari realisasi konsumsi BBM bersubsidi di 2012 yang mencapai 45,27 juta (kl). Realisasi juga melebihi kuota yang ditetapkan sebelumnya, 40 juta kl. “(Kuota subsidi BBM) Itu pun sesungguhnya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan riil masyarakat seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat.

Subsidi telah menyebabkan banyak orang terlupa bahwa harga BBM sebenarnya mahal, sehingga mengakibatkan pola konsumsi yang berlebihan dan boros,” tuturnya.

Atas potensi membengkaknya kuota BBM subsidi, pemerintah tengah mengkaji opsi pengendalian. Karena jika tidak ada tindakan, Menko Perekonomian Hatta Rajasa kuota BBM akan naik menjadi 53 juta kl dengan nilai lebih dari Rp 300 triliun. “Kalau subsidi sudah Rp 300 triliun itu tidak sehat, harus dikurangi agar ruang fiskal untuk atasi kemiskinan dan dorong kesejahteraan akan semakin banyak,” kata Hatta.

Pengendalian konsumsi BBM mutlak dilakukan karena menyebabkan Indonesia mencatat defisit perdagangan. Karena untuk memenuhi konsumsi dalam negeri, pemerintah harus mengimpor minyak.

©[FHI/Pertamina]

Follow us: @forum_hijau