Tanah Jakarta Cukup Berpotensi Amblas

Tanah Jakarta cukup berpotensi untuk ambles, longsor dan kehilangan daya dukung terhadap fondasi bangunan dan infrastruktur di atasnya jika terjadi gempa dengan skala di atas 5 MW (Magnitudo gempa) dan dengan kecepatan gempa permukaan di atas 0,1 gal (80 cm per detik kuadrat).

“Jakarta merupakan kota yang dibangun di pesisir, khususnya area di utara Jakarta. Jadi sebagian tanahnya dari jenis pasir, bukan jenis lempung,” kata pakar geoteknologi LIPI, Adrin Tohari di Jakarta.

Tanah jenis ini jika ditambah syarat lain yakni bersifat lepas (tidak padat) dan jenuh air, ungkapnya , maka cukup berpotensi terkena likuifaksi atau suatu fenomena hilangnya kekuatan lapisan tanah akibat getaran gempa.

Pada peristiwa ini, lapisan tanah pasir menjadi hancur sehingga tidak mampu menopang beban bangunan di atasnya dan mengakibatkan antara lain, hilangnya daya dukung atau kegagalan pondasi jembatan, mengakibatkan ground settlement yang dapat menimbulkan penurunan pada bangunan dan ground oscillation yang dapat menimbulkan kerusakan pada jalan.

Likuifaksi juga menyebabkan flow failure atau longsoran lereng tanah yang menimbulkan kerusakan besar pada jalan yang berada di atas tebing, menyebabkan lateral spread atau perpindahan menyamping pada permukaan datar dan menimbulkan kerusakan pada bangunan dan jalan.

Likuifaksi juga membuat lapisan pasir menyembur (sand boiling) dan menyumbat sumur.Terlebih lagi berkurangnya terus menerus air tanah menjadi kendala besar di Jakarta dikarenakan kepadatan air yang juga menjadi salah satu penopang semakin terkuras,dengan pemakaian yang secara terus menerus tanpa pembaruan.Dan juga kurangnya sumur resapan yang bisa menjadi suplai cadangan air tanah di Jakarta berpotensi amblasnya tanah.

Ia memberi contoh ketika terjadi gempa Yogyakarta di mana sumur-sumur menyemburkan pasir dan tersumbat sehingga warga Yogyakarta yang rumah-rumahnya hancur karena gempa makin menderita dengan kekurangan sumber air bersih.

Selain itu likuifaksi juga bisa menyebabkan bouyant rise of buried structures yang menimbulkan ledakan pada pipa gas atau tanki bahan kimia terpendam di dalam tanah.

Namun demikian studi tentang struktur tanah di Jakarta sangat minim, belum ada pemetaan area mana saja di Jakarta yang mengandung lapisan pasir lepas dan jenuh air yang berbahaya jika didirikan bangunan di atasnya.

“Kesulitan kami melakukan studi struktur tanah di Jakarta karena Jakarta sudah terlanjur padat dengan aspal, beton dan bangunan, padahal studi geologi perlu menggali dan membor lokasi-lokasi yang ingin diketahui,” katanya.

Sumber gempa bagi Jakarta, ujarnya, bisa berasal dari subduksi di sepanjang barat Sumatera hingga selatan Jawa, sesar di Jawa Barat dan gempa Krakatau yang memiliki rentang umur ledakan sekitar 200 tahun.

Ditanya soal kerawanan reklamasi pantai di utara Jakarta, menurut dia, bisa saja dibuat menjadi tidak rawan likuifaksi asal lapisan tanah di bawahnya dipadatkan.

©[FHI/FHJ/Antara]

www.forumhijau.com