Rehabilitasi Hutan dan Lahan Harus Diprioritaskan

Rehabilitasi Hutan dan Lahan Harus Diprioritaskan

FHI — Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) merupakan kegiatan prioritas dalam pembangunan nasional sehingga menjadi salah satu kontrak kinerja Menteri Kehutanan RI dalam Kabinet Indonesia Bersatu II (2009-2014).

Berdasarkan hasil peninjauan kembali (review) data lahan kritis, total luas lahan kritis di Indonesia dengan rincian kritis dan sangat kritis adalah 29,9 juta ha (Ditjen BPDASPS, 2011). Jika dibanding dengan data lahan kritis tahun 2005, luas lahan kritis yaitu 30,2 juta ha, maka terjadi penurunan luas lahan kritis sebesar ± 0,3 juta ha.

Dengan demikian, upaya RHL harus terus ditingkatkan mengingat masih luasnya lahan kritis baik di dalam kawasan hutan maupun diluar kawasan hutan, sehingga target kinerja dapat tercapai seluas 2,5 juta ha pada tahun 2014.

Disamping itu, kegiatan RHL merupakan salah satu upaya untuk menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK). Dalam rangka penurunan emisi gas rumah kaca, tanaman hasil RHL akan mampu meningkatkan stok karbon dipermukaan bumi.

Dalam pertemuan negara-negara G-20 di Pitsburg Amerika Serikat Tahun 2009 yang lalu, Presiden RI telah menyatakan komitmen Indonesia untuk menurunkan emisi gas rumah kaca yaitu sebesar 26% dengan upaya sendiri (business as usual) dan 41% dengan dukungan internasional pada tahun 2020.

Upaya RHL Tahun 2012 merupakan bagian tidak terpisahkan dari pencapaian kontrak kinerja Menteri Kehutanan RI. Penyelenggaraan RHL tahun 2012 merupakan pelaksanaan RHL tahun ketiga sejak tahun 2010. Dalam kurun tahun 2010-2011, kegiatan RHL telah mampu menurunkan degradasi hutan dan lahan lebih dari 600.000 ha yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Hingga dengan tahun 2012, maka diproyeksikan penurunan degradasi hutan dan lahan akan mencapai lebih dari 1.100.000 ha dengan anggaran yang berasal dari pemerintah.

Untuk meningkatkan keberhasilan RHL secara menyeluruh, maka perlu dukungan dan peran serta masyarakat. Pelaku utama RHL adalah masyarakat baik secara perorangan maupun per kelompok. Upaya RHL ini menjadi salah satu upaya pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan kehutanan.

Dengan adanya perubahan dan perkembangan jenis kegiatan untuk mendukung RHL Tahun 2012 antara lain pembuatan persemaian permanen, penanaman bibit hasil Kebun Bibit Rakyat (KBR) dan Kegiatan Bantuan Langsung Masyarakat Pengembangan Perhutanan Masyarakat Pedesaan Berbasis Konservasi (BLM-PPMPBK), maka perlu disusun Pedoman Penyelenggaraan RHL Tahun 2012 sebagai penyempurnaan pedoman sebelumnya.

©[FHI]